Bukit Algoritma Mulai Dibangun Sebagai Pusat Riset Teknologi Digital


Bukit Algoritma Mulai Dibangun Sebagai Pusat Riset Teknologi Digital

Di dunia digital, algoritma bisa dikatakan mengambil peran sebagai seorang “pengatur” . Bagaimana tidak, algoritma-lah yang menentukan berita apa yang akan kita baca, iklan yang muncul di sosial media, bahkan mungkin video-video youtube yang kamu minati sehingga menghabiskan banyak waktumu untuk menontonnya

 

Berbicara tentang algoritma,  baru-baru ini sedang ramai pembicaraan tentang Bukit Algoritma, sebuah proyek raksasa pertama Indonesia di bidang teknologi khususnya teknologi digital. 

 

Algoritma merupakan serangkaian perhitungan matematis yang memprediksi perilaku kita berdasarkan data. Meskipun menggembar-gemborkan nama besar yang diwarnai dengan nuansa ilmiah, bahkan cukup berani dengan menganggap bahwa bukit algoritma akan menjadi silicon valley-nya Indonesia. Bersamaan dengan atensi yang coba ditarik, proyek ini juga banyak dikritisi serta menimbulkan beberapa pertanyaan besar.

 

Dibangun di atas lahan perbukitan seluas 888 hektar, yang sebelumnya dikelola sebagai kawasan perburuan wisata bernama Cikidang Resort. Bukit Algoritma telah diresmikan dengan seremonial groundbreaking yang dilakukan beberapa waktu lalu.  Proyek ini dikatakan penanggung jawabnya telah menggalang investasi dari beberapa negara hingga Rp 18 triliun. Sebuah angka investasi yang masif tentunya.

 

Pembangunan mega proyek ini didasari atas permohonan izin membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).  Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2020 tentang Fasilitas dan Pengecualian di Kawasan Ekonomi Khusus, perlakuan khusus lainnya dari entitas KEK melampaui perpajakan dan bea masuk. Untuk itu, proyek ini bisa jadi akan menarik banyak investor dan pebisnis untuk membangun kawasan teknologi ini. 

 

Untuk dikatakan sebagai Silicon Valley-nya Indonesia, tetap saja butuh banyak perencanaan dan ekosistem teknologi serta sumber daya manusia yang mendukung. Tentunya kita tau Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat tidak dibangun dalam satu malam langsung jadi layaknya Tangkuban Perahu. Sebagai gambaran, Silicon Valley di California saat ini merupakan zona eksklusif yang sekarang menampung sekitar 2.000 perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia. 

 

 

Dua lulusan Stanford, William Hewlett dan Dave Packard, mendirikan perusahaan komputer Hewlett-Packard, diikuti oleh alumni lainnya, termasuk William Shockley, yang mendirikan Shockley Semiconductor Labs yang memproduksi prosesor komputer. 

 

Tidak lama kemudian, Silicon Valley berkembang pesat. Pada 1970-an, perusahaan seperti Atari, Apple, dan Oracle muncul, kemudian diikuti oleh eBay, Yahoo!, PayPal, dan Google. Pada 1990-an, raksasa digital Facebook, Twitter, Uber, dan Tesla, bergabung di area silicon valley berukuran 121 kilometer persegi. Dari skala besarnya nilai ekonomi dari Silicon Valley Amerika, nilai totalnya ditaksir sekitar US$3 triliun, hampir tiga kali lipat dari seluruh perekonomian Indonesia.

 

Dari analogi tersebut, bisa kita bayangkan jika untuk menjadi sebuah daerah yang menyamai Silicon Valley, banyak hal pendukung yang diperlukan, salah satunya ekosistem yang mapan. Di sekitarnya sudah berdiri Stanford University yang terkenal akan keunggulan riset teknologi nya, juga dukungan dari banyak perusahaan investasi yang terus menggelontorkan jutaan dolar ke perusahaan-perusahaan startup.

 

Maka dari itu, dengan hanya membangun apartemen, jalan tol, dan akses kesehatan dan hiburan yang memadai, tak serta merta menjadikan Bukit Algoritma akan jadi pusat teknologi di Indonesia. Namun diperlukan juga regulasi yang mendukung terhadap pengembangan teknologi, dana riset yang besar, serta dukungan investasi untuk perusahan-perusahaan rintisan yang didirikan oleh anak-anak Indonesia sendiri.

 

Tetapi tentu saja, apabila Bukit Algoritma mendapat pengelolaan yang baik dan didukung oleh SDM yang mumpuni, bukan tidak mungkin kawasan ini akan menjadi media inkubasi lahirnya perusahaan-perusahaan digital karya anak bangsa kedepannya.

 

Untuk saat ini, riset yang akan difokuskan dari pembangunan Bukit Algoritma yakni, Rekayasa Digital diantaranya seperti: Quantum Computing, Deep Learning, Blockchain, 5G. Lalu rekayasa atom seperti teknologi nirkabel, dan transistor dan yang terakhir yakni rekayasa Biologi seperti rekayasa genetik dan teknologi pangan. 

 

Mau tidak mau memang kita harus beradaptasi dengan teknologi yang terjadi, salah satunya untuk terhubung dengan internet. Apakah kamu sulit mendapat akses internet yang memadai di rumah, jangan khawatir, ada GMEDIA yang menggunakan teknologi terbaik dengan IP Server private sehingga koneksimu akan aman, dan stabil dengan kecepatan tinggi hingga 100Mbps. Yuk segera berlangganan di GMEDIA!

Posted 2021-07-07 09:30 by Marcomm Gmedia Share
  news