OLSHOP LEBIH EFEKTIF BAGI GENERASI MILLENIALS


OLSHOP LEBIH EFEKTIF BAGI GENERASI MILLENIALS

 

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengatakan model bisnis ritel dengan ukuran pusat perbelanjaan besar dengan luas lebih dari lima ribu meter persegi tidak cocok di era belanja daring (online) dengan maraknya e-commerce di Indonesia. Mereka juga mengatakan segala kemudahan belanja daring menggerus keberadaan toko-toko besar. Sebab, era belanja daring membuat konsumen lebih memilih untuk memesan barang belanjaan secara online. Dengan belanja daring, konsumen tidak perlu mengkhawatirkan kemacetan ketika menuju toko atau antrean panjang ke kasir.

Masyarakat sudah banyak yang malas untuk ke Mal karena untuk masuk ke Mal saja mereka perlu mengantri. Bahkan untuk sekedar membayar barang belanjaan, mereka masih harus mengantri lagi di kasir. Hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang melelahkan. Sedangkan bila masyarakat berbelanja secara online,  mereka tak perlu repot antre dan jasa delivery service juga sudah banyak disediakan oleh para pebisnis ritel.

Berdasarkan informasi dari Aprindo, belanja daring mengubah perilaku belanja konsumen. Konsumen di era belanja daring bisa membeli barang tanpa repot-repot harus mendatangi toko. Aprindo juga menekankan bahwa penjualan di media sosial seperti Facebook dan Instagram terasa menyakitkan bagi pengusaha ritel karena transaksi tersebut tidak terkena pajak. Hingga saat ini belum ada yang bisa menarik pajak dan menghitung berapa pajak yang perlu diambil dari transaksi tersebut.

Meskipun Kementerian Keuangan telah menerbitkan PM Keuangan Nomor 210 tahun 2018 yang mengatur penarikan pajak atas transaksi perdagangan di e-commerce, sejauh ini belum ada beleid yang mengatur transaksi jual beli di media sosial. Regulasi ini sepatutnya bisa menciptakan level playing field atau kesetaraan antara pengusaha online dan offline.

Posted 2019-02-07 16:55 by Marcomm Gmedia Share
  news